
Sampah yang selama ini hanya menebar bau busuk bisa disulap menjadi komoditas luar biasa di TPST (tempat pembuangan sampah terpadu) Bantar Gebang, Bekasi. Selain dijadikan kompos, limbah itu juga bisa diubah menjadi bahan
Agus N. Santosa, presiden direktur PT Navigat Organic Energy Indonesia, pengelola PLTSa Bantar Gebang, mengatakan bahwa secara teknis sudah tidak ada masalah pada PLTSa Bantar Gebang. Namun, pihaknya perlu berkoordinasi dengan Pemkot Bekasi untuk meresmikannya. Semula, PLTSa terbesar di tanah air itu diresmikan Selasa lalu (30/3), tetapi kemudian diundur. "Tinggal menunggu hari H-nya saja," katanya.
Menurut Agus, perusahaan yang dia pimpin itu sejak awal memang sangat ingin mengubah limbah buangan tersebut menjadi listrik. Sebelum PLTSa di Bantar Gebang, pihaknya membuat proyek serupa di
Di Bantar Gebang, setiap hari tersedia 4 ribu?6 ribu ton sampah dari
Itu juga bagian dari upaya mengurangi kebocoran gas methane yang dihasilkan sampah. Gas yang mudah terbakar itu menimbulkan bau menyengat di sekitar lokasi pembuangan sampah. Sebagian tumpukan dilapisi dengan membran (seperti plastik) sehingga tidak ada lagi gas yang keluar. "Membran itu juga berfungsi sebagai pelindung agar air tidak masuk ke dalam tumpukan sampah," terang Agus.
Gas yang keluar dari sampah itulah, yang diambil untuk menggerakkan mesin pembangkit listrik. Tiga teknologi pengolahan sampah menjadi listrik bernilai Rp 700 miliar dipersiapkan agar menghasilkan listrik 26 MW. Teknologi pertama adalah landfill gasification. Di dalam tumpukan sampah, dibuat sumur-sumur kecil berdiameter 60 sentimeter. Sumur tersebut digunakan sebagai perangkap gas yang keluar dari sampah.
Di Bantar Gebang terdapat
"Saat ini memang baru dua mesin itu yang kami pasang. Yang lain masih dalam order dan akan datang bertahap," tutur Agus. Dia menargetkan pada April nanti datang dua mesin pembangkit produksi GE (General Electric) Jerman. Selanjutnya, akan datang enam unit hingga akhir tahun nanti. Jadi, total kapasitas yang dihasilkan mencapai 8 MW.
Navigat menargetkan bisa menghasilkan listrik 12 MW dari teknologi landfill gasification. Setelah itu, akan dipersiapkan teknologi lain, yaitu Thermal Process7 Gasification (mengolah sampah organik kering dengan cara pyrolysis atau pemanasan dalam ruang tertutup atau hampa udara). Potensi gas yang dihasilkan dari teknologi ini 7 MW.
Lantas, teknologi ketiga yang dipersiapkan adalah anaerobic digestion, yaitu pemilahan sampah organik basah untuk diproses secara biologi, lalu difermentasi untuk menghasilkan gas. Listrik yang bisa dihasilkan dari teknologi itu 5 MW. "Total rencana kami, di TPST Bantar Gebang akan bisa dihasilkan listrik 26 MW," jelas Agus.
Direktur Navigat Okky A.W. Tjandrawinata menambahkan, proyek PLTSa harus diperjuangkan karena berdampak positif bagi alam. Di luar negeri, proyek seperti itu mendapat subsidi dari pemerintah. Jadi, listriknya bisa dijual USD 10/Kwh (kilowatt per hour). Di Indonesia, listrik sampah dihargai Rp 850 per Kwh. "Kami maklum karena keuangan negara kita masih seperti ini," katanya.
Yang penting, ungkap dia, proyek pembangkit tenaga listrik harus dibuat menjadi usaha bankable. Artinya, perbankan harus menilai proyek itu mampu menghasilkan keuntungan sehingga mau membiayai. "Pokoknya, kalau bank sudah berani membiayai, itu berarti potensinya bagus. Investor akan berbondong-bondong membangun PLTSa. Listrik terjamin, target pemerintah tercapai," jelasnya.(jpnn.com)

0 komentar:
Posting Komentar